instagram twitter
  • Home
  • Thoughts
  • Hobby
    • Books
    • Experience
    • Traveling
  • About
  • Contact
  • Creations

Rani Wijaya

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.” ― Anaïs Nin


                                17 November 2011
Pada dasarnya manusia itu tidak pernah puas!
Jika lihat ke atas semua akan terasa kurang. Barang yang mewah sekali pun akan diinginkan, sejenak atau bahkan selamanya melupakan apa yang kita punya saat ini, menuruti nafsu kegengsian, nafsu dari ke-modern-an zaman—yang tidak akan berhenti di satu titik saja.

Melengkapi keinginan bukan kebutuhan. Ingin itu ingin ini, yang sebenarnya tidak butuh.

Manusia itu rakus kalau tidak sadar.
Manusia itu korban mode kalau selalu menuruti keinginan.
Manusia itu lemah tanpa kesadaran, sangat lemah.

Harus berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk mengikuti kemodern zaman ini?
Sebulan ini model x, sebulan kemudian model y, enam bulan kemudian model xy, lalu....? untuk itukah kita hidup? Untuk menuruti hawa nafsu?
Pikirkanlah...

Jika lihat ke atas kita akan selalu merasak kurang, maka marilah kita lihat ke bawah.
Ada, pasti! Pasti ada seseorang, bahkan lebih, yang ingin seperti kita. Yang berusaha memiliki apa yang kita punya. Beruntung kalau orang itu sanggup, tapi kalau tidak?
Mereka hanya akan terus kepingin. Semua jadi keinginan, tidak bedakah kita dengan yang di bawah kita?
Tentu saja sama! Maka sudah sepantasnya kita bersyukur, ada yang di atas pasti ada yang di bawah. Kalau yang di bawah kita ingin seperti kita dan kita pengin seperti mereka yang di atas,, lalu bagaimana yang di atas?

Adakah yang di atas kita juga belum merasa puas dengan apa yang mereka miliki? Yaaa...
Logika berjalan, bila kita saja menjadi bawahan mereka pasti mereka punya atasan, sehingga semua sama saja. Yang dia atas pun ingin lebih dari yang sekarang.

Jadi marilah sadar sebagai insan manusia
1. jangan merasa sombong! Ingat! Kita masih di bawah, ada yang lebih dari kita punya saat ini.
2. bersyukurlah, masih ada orang yang dibawah kita mencoba untuk bangkit, bekerja keras.

APALAH ARTI KESOMBONGAN DAN MERASA KEKERUNGAN JIKA KITA SEWAKTU-WAKTU BISA ADA DI ATAS DAN ADA DI BAWAH?
RENUNGKANLAH






NB: Sebenernya ini adalah tulisan lama banget. Tanggal 17 November 2011, waktu saya masih belia :p, sekarang 4 tahun sudah catatan ini tersimpan rapi dalam notes bagian belakang karena hari ini tanggal 17 November juga hanya saja tahun 2015. Kebetulan banget tanggalnya sama, padahal nggak di pas-pasin juga loh :)
Nggak tau waktu itu dapet wangsit apa sampe bisa  nulis itu, keabsurd-an yang masih saya iyain sampai hari ini:) walaupun tulisannya masih acak-acak-an kayak gitu tapi saya tau arah dan tujuan tulisan itu hihi semoga Anda yang membaca juga dapat memahaminya, memahami tulisan anak 18 tahun tulis begituan, ya walaupun mungkin Anda harus mengulang-ulanginya dan mengerutkan kening sambil bilang “ini anak nulis apa sih?” hihi
Tuesday, November 17, 2015 No komentar

Akun sosial media ter-suspend lagi itu rasanya AWWW banget. Setelah sebelumnya instagram yang baru beberapa hari dibikin ter-suspend, sekarang giliran twitter yang suspended. Akun yang dibikin dari Juli 2015 akhirnya bermasalah :( tiba-tiba aja followers dan following saya hilang entah kemana. Cuma ada angka 0 di atas kata followers dan following.

Shock.

Tiba-tiba mikir apa ini twitter di hack, tapi siapa yang mau ngehack? :| orang bukan artis ginikan –“

Tapi setelah baca penjelasan yang ada di timeline “your account has been suspended. For more information, please visit the Suspended Accounts Help Page” baru sadar kalo akun twitter saya dicurigai sampai tersuspend gitu.

Ok fix, saya salah apa? :(

Saya nggak pernah pake aplikasi yang aneh-aneh di twitter, nggak pernah share berita yang aneh-aneh juga apalagi hal yang berbau porno. Then whatttt?

Setelah dipikir-pikir ini pasti berbuhungan sama DM yang masuk kemaren. Jadi beberapa hari sebelumnya saya terima notifikasi di email kalo ada dua orang yang mengirim pesan pribadi di twitter. Di email tanpa harus klik link DM tersebut sudah bisa terlihat pesan apa yang dikirim, kamu yang ada di video ini? Adalah pesan aneh yang saya terima pertama kali. Orang yang mengirimkan itu saya kenal dan saya tau. Dari awal baca DM itu emang kayak agak aneh, kenapa tiba-tiba dia nge-DM kayak gitu, udah ngerasa jangan-jangan kalo link nya di klik bisa terjadi sesuatu kayak sayanya juga ikutan ngirim sesuatu ke teman-teman tanpa saya ketahui. Tapi akhirnya mengatasnamakan penasaran saya klik juga itu link :|

Dan??

Nggak terjadi sesuatu seingat saya, linknya mengarah ke twitter kalo nggak salah. Atau kemana lah itu tapi yang jelas bukan web yang aneh-aneh.

Pesan kedua saya terima beberapa hari setelah itu, orang yang mengirimkannya saya nggak kenal dan nggak tau dia follower saya atau bukan. Pesan yang dia kirim itu juga saya lihat dari email. Yang mana? Adalah pesan yang orang itu kirim. Aneh lagi bukan pesannya? karena pesan yang dikirim itu mengundang tanda tanya apa, siapa, dan kenapa dia kirim begitu akhirnya saya klik lagilah link itu. Hasilnya sama kayak sebelumnya. Nggak terjadi sesuatu yang aneh sampe akhirnya saya online twitter lewat hp.

Saat online twitter ada tanda DM masuk, tapi waktu mau dibuka siapa-yang-mengirim tidak bisa. Diulang beberapa kali tetap nggak bisa. Akhirnya ya sudah saya biarkan. Timeline saat itu masih berisi tweet-tweet yang di baru di update beberapa menit sebelumnya. Semua masih berjalan normal seperti biasanya sampai akhirnya siang tadi.

Saya coba buka twitter dan ternyata timeline yang ada masih sama kayak hari terakhir saya buka. Aneh. Saya coba buka profil saya dan disitulah saya mengnganga :0 followers dan following saya tiba-tiba nol, yang harusnya tertulis angka 200-an tiba-tiba berubah menjadi 0. Saya coba buka ke timeline lagi ternyata ada tulisan kalo twitter saya suspended  :(

Seketika itu juga yakin seyakin-yakinnya kalo ini tercurigai karena DM kemaren. Mungkin kemaren link itu terlarang dan seharusnya nggak di klik. Mungkin orang-orang yang mengirim DM pun nggak sadar kalo mereka mengirim pesan itu. Ahhh.....

Sekarang harus bagaimana? Haruskah menunggu dua bulan lagi supaya dapat email dari twitter kalo akun saya nggak bersalah seperti instagram saya yang dulu teersuspend juga? :|

Sekarang lagi blog walking cari cara supaya bisa pulih dengan segera  twitternya. Doakan  :’)

Buat para pengguna twitter kalo nerima DM yang nggak jelas-jelas gitu jangan di buka ya walaupun bikin penasaran. Dan juga kalo ada yang mungkin terima DM dari twitter saya yang aneh-aneh, itu bukan saya :|

Saturday, October 03, 2015 No komentar

Kemaren di instagram, teman-teman yang sebagian besar pharmacist-to-be, ramai memposting foto yang sama. Foto dengan dua kolom, yang satu adalah banner dan yang sebelahnya foto mereka yang menandakan kalo mereka adalah calon farmasis. 



 YAPPP

Seperti keterangan di atas, kemarin adalah harinya farmasis. World Pharmacists day. Untuk memeriahkan hari kebesaran itu hampir sebagian teman saya memposting foto dan menulis caption yang menarik,
pharmacist; your partner in health, your partner in heart :D

Masih banyak caption-an lain selain itu, tapi yang paling menarik perhatian saya adalah yang di atas, unik. Haha. Dari pagi sampe malam setiap ngecek instagram foto-foto yang berseliweran masih seputaran itu karena memang temen-temen di instagram ya teman-teman yang satu jurusan :p

Di kampus, ada aksi bagi-bagi sandwich gratis dalam rangka memperingati harinya farmasis ini, juga aksi penulisan harapan kedepan untuk farmasis yang kemudian ditempel di dinding tiang kampus. Harapan yang saya tulis saat itu adalah semoga farmasis lebih dikenal masyarakat. Selalu berkontribusi dalam dunia kesehatan.

Emang farmasis belum dikenal? Sampai saat ini banyak masyarakat yang masih asing dengan siapa itu farmasis, yang masyarakat tau farmasi(s) itu obat. Lebih tepatnya orang yang ada di apotek-apotek, yang meracik obat dan yang menjual obat. Kenyataannya farmasis adalah lebih dari itu. Farmasis adalah orang yang mengetahui seluk-beluk obat. Orang yang harusnya menentukan obat apa dan berapa dosis yang tepat untuk setiap pasien setelah mengetahui kondisi pasien dari diagnosa dokter. Tapi kebanyakan orang hanya tau farmasis adalah orang yang menyiapkan obat atas resep yang ditulis dokter.

Saat ini, dirumah-rumah sakit tertentu peran farmasis sangat diperlukan saat melakukan kunjungan pasien di bangsal-bangsal. Dokter, perawat, dan farmasis bersama-sama melakukan kunjungan pasien untuk mengecek kondisi pasien. Dokter memeriksa perkembangan sang pasien dari data perawat maupun dari hasil pemeriksaannya dan farmasis menentukan apakah obat yang telah diberikan memberikan efek yang baik atau tidak, apakah keluhan pasien dari data perawat adalah efek samping suatu obat, apakah obat yang diberikan tetap diberikan atau dihentikan dan digantikan dengan yang lain saat melihat kondisi pasien dan bagaimana dengan dosisnya, itulah kerjaan seorang farmasis.

Memang belum semua rumah sakit melakukan kolaborasi yang baik seperti itu, hanya rumah sakit besar yang baru melakukannya. Namun perlahan tapi pasti rumah sakit-rumah sakit yang lain akan melakukan kolaborasi kunjungan seperti itu karena memberikan obat memerlukan keahlian khusus dan itu adalah keahlian farmasis.

Nah, dalam rangka memperingati hari farmasis nih saya mau menceritakan awal mula bisa masuk dalam jurusan ini. Karena pengennya yang antimainstream, saya kemarin nggak ikutan upload foto kayak teman-teman yang lain. Sengaja mau sharing-sharing aja awal masuk ke dunia farmasi karna kan sebentar lagi mau jadi farmasis hihi. udah semester tujuh, pharmacist-to-be nih :D.

Sebenernya kalau ditelisik kebelakang, pilihan farmasi ini bukan karena pilihan sendiri. Ini adalah pilihan bapak ibu, tapi bukan dengan pemaksaan. Dulu langsung setuju-setuju aja waktu dibilangin daftar SMF aja karena selepas SMP nggak tau mau masuk SMA atau SMK-yang-jurusanya-juga-nggak-tau-apa. Padahal waktu itu nggak tau apa itu farmasi, katanya sih belajar tentang obat-obatan yang kalo lulus nanti langsung bisa kerja di apotek. Taunya dulu kalo mau kerja di apotek bisa orang biasa padahal oh ternyata harus tau tentang obat.

Jadi ceritanya kenapa bapak-ibu bisa menyarankan nyoba daftar ke SMF adalah karena saran guru les. Semacam saran berdasarkan saran. Waktu itu sore hari selepas les matematika terakhir dirumah, bapak-ibu bertanya ke Mbak Nila, kalau lihat kemampuan saya selama les sebaiknya saya ngelanjutin di sekolah mana. Mbak Nila pun menyarankan coba daftar SMF dulu, yang bapak-ibu tau tentang SMF itu cuma biayanya, mahal. Tapi karena kemauan bapak-ibu sendiri buat sanggup membiayai jadilah tetap jalan walaupun mahal, 
yang saya ingat dulu ibu bilang "Berani gak pak nyekolahin Rani disana?"

 "ya ibu gimana?" tanya balik bapak.

 "ya berani aja, mumpung bapak masih kerjalah, di rewangi ngutang kalo gak bisa. Kalo gak nekat gak bakal jalan." Ini kata-kata ibu yang nggak bakal dilupain. Penyemangat bangeeeet :’)

Satu hari setelah disarankan dan terjadi percakapan di atas, besoknya bapak-ibu langsung ke SMF buat tanya kapan pendaftarannya, karena nggak mau telat kayak si mbak dulu. Iya jadi si mbak dulu juga mau di daftarin ke SMF tapi telat karena pendaftaran udah tutup. Pendaftaran SMF emang lebih cepat dari sekolah lainnya. Belum sampai pengumuman kelulusan SMP pendaftaran sudah dibuka dan ditutup beberapa hari setelah pengumuman kelulusan SMP.

Sewaktu bapak ibu kesana ternyata pendaftaran belum dibuka, bapak-ibu terlalu cepat :D tapi seenggaknya bapak ibu dapat info kapan dibuka pendaftaran. Dua hari setelah pendaftaran dibuka akhirnya saya mendaftar, bisa ditebak saya termasuk pendaftar awal donk haha. Tapi ternyata waktu mendaftar ada syarat yang kurang dan terpaksa pulang, balik lagi satu minggu kemudian dan dapat nomer pendaftaran 68.

Beda nih dengan SMA-SMA yang butuh nilai NEM untuk bisa masuk, di SMF untuk masuk harus melalui ujian tertulis dan ujian kesehatan. Ujian tertulis saat itu diikuti 570an calon murid, setelah lolos tes tertulis lanjut tes kesehatan. Alhamdulilah setelah melalui dua tes tersebut saya resmi menjadi murid SMF di tahun ajaran 2008/2009. Inget banget dulu setelah pengumuman tertulis, para orangtua calon murid diminta hadir di pendopo sekolah siang itu juga. Disana para orangtua tersebut diyakinkah bahwa biaya yang  akan dikeluarkan berbeda dengan dengan SMA-SMA lain dan alhamdulilah bapak-ibu tetap mantap menyekolahkan saya di SMF, sampai saat ini yang sudah hampir menjadi farmasis :D

Well, kayaknya cukup segini dulu. Di harinya farmasis ini semoga cerita ini selalu menjadi pengingat dan penyemangat bagaimana saya harus menjadi farmasis yang sukses, yang profesional, yang selalu semangat sebagaimana bapak-ibu semangat membiayai jurusan farmasi ini :’)

To the pharmacist and pharmacist-to-be,

Happy world pharmacists day!! :)

Thursday, October 01, 2015 No komentar
Kemaren waktu buka-buka blog sendiri, saya stuck di postingan Liburan Semester 5. Saya lupa kalo saya pernah memposting cerita liburan semester saya hihi. saya pikir itu postingan satu tahun yang lalu tapi ternyata itu postingan enam bulan yang lalu. Yup waktu liburan semester lima menuju semester enam. Sekarang? Udah masuk semester tujuh ternyata. Kaget sendiri haha bentar lagi luluskan ya? Aminnnn

Kalau ada cerita di liburan semester lalu berarti harusnya ada cerita diliburan semester enam kemaren dong. Dan yap saya akan mulai menceritakannya, disela-sela penyempurnaan proposal skripsi.
Liburan semester ini sudah diprediksi dari semester kemaren bakal sibuk sama yang namanya KKN, dan alhamdulilah sesuai prediksi. Selain itu juga bertepatan dengan bulan ramadhan jadi ya selain ada cerita KKN bakal ada juga cerita waktu lebaran—ketika kena cacar. Sama seperti liburan setiap menjelang lebaran sebelumnya, liburan selalu diisi dengan tanggung jawab jaga apotek. Bekerja disaat minggu-minggu terakhir bulan ramadhan. Waktu dimana awal mula virus cacar di berinkubasi di dalam tubuh.

Cerita bermula ketika pertengah bulan ramadhan, waktu dimana adek saya yang paling kecil terkena cacar. Saat tau adek kena cacar saya sudah bilang ke ibu kalau saya nggak mau menemani adek tidur, karena saya nggak mau kena cacar. Iya udah segede gini belum kena cacar. Sayangnya ketidakmauan menemani adek tidur ini cuma berlangsung beberapa hari. Sebelum dia sembuh benar saya sudah kembali tidur menemani adek. Kenapa? Karena saya pikir imun tubuh saya cukup kebal. Toh buktinya udah beberapa hari tidak tertular. Lagipula saya pikir kalaupun tertular ya malahan, kan masih libur, jadi nggak bakal ngganggu aktivitas, nggak harus absen ke kampus.

Waktu berjalan, hari H lebaran semakin dekat. Adek ibu dan mbak mudik duluan ke kampung halaman. Tinggalah saya dan bapak jadi pengghuni terakhir rumah, karena masih ada tanggung jawab sehingga tidak memungkinkan untuk mudik lebih cepat juga. Di rumah tanpa ibu tapi dengan bapak itu ada plus minusnya. Terutama soal makanan, minusnya kalo mau makan harus keluar dulu buat beli jadi atau masak dulu yang artinya memperpanjang waktu lapar. Plusnya kalo mau makan diluar nggak susah, tinggal minta duit sama bapak hihi.

Nah kebiasaan saya kalo mau yang praktis waktu ibu mudik itu beli sate. Dan itupun yang saya lakukan buat buka puasa dan sahur dua hari berturut-turut saat ditinggal mudik duluan. Dua hari nggak makan sayur ternyata jadi penyebab mula si virus berkembang dalam tubuh saya. Dan saya tidak menyadari itu. Yang saya ingat tiba-tiba saja selepas bangun tidur punggung saya ada bintik merah yang kalo disentuh lumayan perih.

Saat itu saya berpikir kalo bintik merah itu hanya luka karena tomcat, karena satu hari sebelumnya saat saya tidur di rumah bude didinding kamarnya ada tomcat. Bukannya bangun untuk menghindarinya, saya malah tetap tidur karena saking capek dan ngantuk setelah muter-muter kampung untuk berlebaran.

“cuma bintik merah kecil kayak ada airnya” kata mbak saya saat saya tunjukan bintikan itu. Saya pun santai mendengar itu, pasti ini gara-gara si tomcat, pikir saya. Tapi setelah dipikir-pikir ada yang aneh dengan tubuh saya saat itu, saya melihat beberapa bagian tubuh saya  merah-merah seperti habis digigit nyamuk. Seketika itu juga saya mulai cemas kalau-kalau itu adalah calon cacar. Dengan kondisi seperti itu saya belum bercerita pada ibu. Sengaja karna mau lihat keesokan harinya, apakah merah-merah yang ada ditubuh saya semakin bertambah atau tidak yang bakal menandakan itu cacar atau bukan.

Keesokan harinya, sesaat setelah bangun tidur saya lantas mengecek tubuh saya dan hasilnya positif! Tanda kemerah-merahan itu semakin membentuk bintik kecil dan di bagian lain muncul kemerah-merahan yang lain. Saat itulah saya melihatkannya pada ibu dan ibu bilang “waah ya bener cacar itu”
Siangnya, gejala cacar semakin tampak. Badan saya lemas, suhu tubuh saya naik dan saya merasa pusing. Alhasil siang itu saya habiskan untuk tidur setelah berdiri sekitar 15 menit melihat pertunjukan jatilan di kampung saya. Pusing tidak terkira.

Saya tidak mengira akhirnya terkena cacar disaat-saat seperti ini. Saat dimana liburan akan berakhir dan KKN akan segera dimulai. Imun tubuh yang saya pikir kebal ternyata cukup lemah untuk dikalahkan virus cacar, asupan sayur di akhir bulan ramadhan yang tidak pernah tersentuh ditambah kelelahan mudik dan jalan-jalan saat halal bihalal berhasil menguatkan si virus dalam tubuh.


Jumlah bintik-bintik cacar waktu masih sakit terlihat banyak sekali. Rasanya sedih saat melihat badan banyak dihiasi bintikan yang berisi air yang gatalnya luar biasa, dan perihnya kalo berbaring tidur. Tapi ternyata jumlah cacar ini termasuk sedikit menurut teman saya. Setidaknya tidak banyak yang muncul di kaki, tangan dan wajah—hanya berkisar lima bintik yang muncul di masing-masingnya.

Cacar yang muncul di pergelangan tangan. Iseng Foto :p
Satu hal yang saya cemaskan saat terkena virus ini adalah KKN saya. Saya tidak bisa membayangkan saya KKN dengan membawa virus yang dapat menularkan pada oranglain. Banyak anak-anak kecil yang pasti belum pernah terkena cacar dan pasti rentan untuk terkena cacar, sedangkan banyak proker KKN yang mengharuskan berinteraksi dengan anak-anak. Saya cuma tidak mau jadi agen penyebab itu, hiks, kasian anak-anak kalo harus tertular juga.

Dokter menyarankan untuk seminggu kedepan—sedangkan tiga hari lagi harus mulai KKN—tetap dirumah saja, jangan kemana-mana untuk mempercepat proses penyembuhan tapi apa mau dikata, tanda-tanda izin KKN tidak ada. Dosen menyarankan untuk mandi menggunakan daun yang saya lupa namanya untuk mempercepat proses pengeringan cacar. Tiga hari yang seharusnya digunakan untuk mengistirahatkan tubuh hanyalah bayangan semata. Tiga hari itu saya gunakan untuk mempersiapkan perlengkapan KKN. Tubuh  saya paksa bergerak di bawah terik matahari di siang hari. Sisanya di sore hari sampai malam hanya bisa merasakan akibatnya. Tubuh kembali demam dan peningnya luar biasa. Waktu malam hari yang di wacanakan untuk packing pakaian menjadi terundur sampai satu malam sebelum menjelang hari keberangkatan, bahkan beberapa jam sebelum kumpul dikampus masih disiibukkan dengan packing-packing. Bahkan materi untuk proker individu tidak tersentuh untuk dikerjakan. Merasa kelabakan? Ya, pasti. Merasa tidak semangat KKN? Ya, sama sekali.

Tapi Alhamdulilah, Allah benar-benar baik. Sesampainya di tempat KKN semua keluhan yang biasa dirasa, seperti lemas hilang seketika. Saat bertemu kembali dengan teman-teman KKN rasa tidak enak badan hilang begitu saja. Malam hari yang biasa demam kambuh hilang entah kemana. Banyak aktivitas tapi seketika itu juga rasa semangat  datang. Ajaib. Satu kata itu yang bisa mewakilkannya.
Tidur malam tidak sepanjang tidur dirumah memang tapi badan tidak menolaknya, bangun tengah malam untuk menyiapkan materi proker, menjalankan proker keilmuan, keagamaan, seni dan olahraga, dan tematik setiap hari. Alhamdulilah semua berjalan lancar.
Walaupun tiga bintikan muncul di wajah yang artinya menggangu pemandangan :p tapi saya tidak terganggu. Bintikan itu kata teman terlihat seperti jerawat karena memang sudah agak kering. Yang saya syukuri sampai sekarang mengingat perjuangan saya di awal-awal cacar adalah sampai berakhirnya waktu KKN saya sama sekali tidak merasa lelah. Alhamdulilah sekali. Terimakasih ya Allah \(^ ^)/

Empat cacar yang muncul di wajah >,<”

Monday, September 21, 2015 No komentar
Nggak ngerti si adek mikirnya apa yang pasti tiap ada cerita horor pasti diceritain ke gue Kayak beberapa malam kemaren sesampainya di rumah selepas nengok adek bayi bareng ibu dengan mimik yang sedikit serius dan setengah kaget dia memulai "mbak kemaren jam 2 ada dua orang di luar. Ngetok-ngetok pintu rumah mbak septi, bilangnya 'mau jahit bu'. Sama ibunya mbak septi dibukain mb, nah mukanya to mbak yg satu rata. Langsung pintunya ditutup sama ibunya mbak septi. Mbak septi sama simbahnya langsung dibangunin"

And you know what, habis denger cerita itu gue cuma bisa bengong, dalem ati cuma bisa batin "adeeeeeek kenapa lo cerita kayak gitu"

Andai gue bisa mengekspresikannya kayak gitu, hahh, tapi kenyataan berkata lain. Gue pasang tampang seolah-olah 'its ok wae dek'

Gue nanggepinnya cerita adek "iya po dek? lah udah tau malem jam 2 kok langsung dibuka" santai banget ya jawaban gue? tapi dalem ati gue, gue takut binggo.

Well, semua demi adek , demi merespon cerita adek, supaya dia percaya kalo gue lebih berani dari dia so dia jadi nggak takut juga besok-besoknya.
its ok wae kok dek!

Hari berlalu, cerita serem itu terlewati sudah. Sore ini ditengah serunya memasak sendiri di dapur si adek ngedeketin. Di waktu-waktu magrib. "mbak masak di sana ada orang kesurupan lagi lhoo" Yakin banget kalo openingnya udah begini sisanya pasti horor dan gue nggak mungkin ngelarang dia buat jangan cerita di tengah ekspreainya yang semangat untuk bercerita.

"Kakakny temenku, tadi waktu lagi jualin pop ice tiba-tiba pop ice nya di siram ke kepalanya sendiri. Habis itu rambutnya di kedepanin sama tangannya di julurin ke depan" cara si adek bercerita cukup buat gue ngebayangin kalo itu kayak yang di film-film, kan?
 
Sekali lagi gue menanggapinya dengan santai "hooh po dek? kamu lihat sendiri? kok banyak yg kesurupan ya sekarang?" sang adek pun melanjutkan ceritanya, sembari menjawab pertanyaan gue.

Waktu berlalu, kumandang adzan isya terdengar. Sang adek pun pamit mau k masjid, dannn tinggallah gue di rumah sendiri, tepatnya di dapur sendirian. Duduk di depan kompor sesekali membalik terong yang gue goreng. Menikmati ketakutan yang kadang-kadang muncul.

Deeek, kalo adek tau mbak was-was di dapur sendiri. Sisa-sisa cerita horor tadi ngingetin mbak cerita horor yang kemaren.

Nggak lucu kan dek, tiba-tiba di pintu dapur ada yang ngetok- ngetok sambil ngomong " mbak aku mau makan"

Ohhh noo!! amit-amit

Saturday, September 12, 2015 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me


Halooo! Aku Rani~ Blog ini hanya berisikan cerita sehari-hari, ambil yang baik-baiknya aja yaaa, karenaa... .

“We write to taste life twice, in the moment and in retropect.” Anais Nin

:)

Follow Me

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  April (1)
      • Bangganya MengAsihi
  • ►  2020 (11)
    • ►  December (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
  • ►  2019 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2018 (13)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (29)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (8)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  January (9)
  • ►  2016 (16)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (4)
    • ►  February (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2015 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2014 (12)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (14)
    • ►  December (1)
    • ►  August (6)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  February (2)

Popular Posts

  • Kulo Dereng Saget
    Dulu, beberapa kali bapak pernah bilang “sekarang kalo ngomong pake bahasa jawa. Masak orang jawa nggak bisa bahasa jawa. Masak tingga...
  • Bahasa Jawa Dalam Percakapan
    Saya bukan orang yang pintar berbahasa jawa. Saya lagi belajar, memperlancar. Postingan berbau bahasa jawa ini saya ambil dari ucapan seh...
  • Planning Mudik yang Berulang Kali Gagal
    Bagaimanapun perencanaan manusia, Tuhan juga lah penentunya. Oke, pembuka diatas cocok sekali dengan keriwehan ku saat mudik kemarin huhu. S...
  • Bangganya MengAsihi
    Dulu sewaktu hamil pengen banget rajin journaling buat mengenang proses hamil muda sampai melahirkan, menceritakan bagaimana kondisi badan, ...
  • 2 Nyawa dan Banyak Harapan yang Ingin Ku Jaga
    Sebagai orang yang sebenarnya suka berada ditengah perkumpulan walaupun tak banyak bicara, aku sedih melewatkan moment kumpul keluarga kemar...
Powered by Blogger.

Created with by ThemeXpose