Thank you Allah ❤
Sampaikan pada kedua orangtua mu bahwa aku berterimakasih atas hadirnya kamu di dunia ini dengan segala kebaikan, kelemahlembutan dan kesopanan yang telah mereka ajarkan padamu ❤
Tuesday, July 17, 2018
No komentar
Aku kira
ramadhan kali ini nggak bakal bisa buber diluar rumah. Buber yang bener-bener
bersama banyak orang, misal reuni temen SD atau sama temen kuliah. Mengingat kali
ini aku sudah pindah di Purworejo yang mana aku nggak belum punya temen
jadi rasanya bener-bener nggak ada harapan buat buber seperti tahun-tahun
sebelumnya. Sempet bersyukur berarti aku bisa menghemat karna tidak perlu
keluar uang lebih untuk buber diluar, cukup buka bersama bapak ibu ian di
rumah, tapi ternyata ketika akhirnya ada ajakan buber aku seneng banget :))
Ternyata, ada
bagian di dalam hatiku yang menginginkan untuk buber diluar :D
Ajakan buber itu
datang dari bu bos. Kemaren sewaktu di apotek bu bos mengirim pesan menawarkan
apakah aku mau ikut buber di luar? Kalau mau besok setelah pulang dari apotek
bisa langsung ke tempat makan yang dimaksud. Tentu saja aku jawab boleh bu, bisa. Rasanya seneng akhirnya
ada ajakan buber di Purworejo ini :D
Selain seneng
karna ajakan buber di luar. Ada beberapa hal dari buber pertama di Purworejo
ini yang bikin seneng, yaitu:
Bu bos menjelaskan kalau buber ini merupakan buber
dengan anak yatim dan relawan GJB
(Gerakan Jumat Berkah). Selama ini aku kalau buber di luar pasti dengan
teman-teman belum pernah karena ajakan komunitas tertentu, jadi pengalaman
kayak gini nggak mau aku lewatkan. Aku pengen ngerasain gimana suasana buber yang
bermanfaat ini.
Bu Arti plus krucil-krucil ikut buber. Sudah lama
nggak ketemu Bu Arti, jadi aku seneng bisa sekalian ketemu Bu Arti.
Aku berangkat dari apotek di seren. Apotek tempatku
training selama 3 bulan. Sudah dua bulan aku nggak pernah ke apotek seren jadi
seneng BANGET rasanya bisa kesana. Seneng punya alasan buat melewati jalanan
yang dulu kutempuh ditiga bulan pertama kerjaku. Seneng karena ternyata nggak cuma
bisa ketemu Bu Arti, tapi juga ketemu Bu Win!! :D juga bisa masuk ke apotek
seren lagi :D ternyata, nggak banyak perubahan posisi yang ada, perubahannya
hanya pada bertambah banyak jumlah stok obat mengingat sebentar lagi lebaran.
Oya,
Bu Win dan Bu Arti ini adalah pegawai apotek di seren. Banyak kejadian lucu
selama training di seren jadi suka aja bakal ketemu Bu Arti dan Bu Win. Kelucuan
Bu Arti dan Bu Win ini pernah ku tulis di twitter, mungkin kapan-kapan harus
kutulis diblog ini! :)
Pengetahuanku akan jalanan di Purworejo ini
nambah, Hore!! :D karena buber ini di rumah makan yang kawasanannya yang belum
pernah aku lalui jadi ya melalui ikut buber ini jadi menambah daftar jalan di
purworejo untuk aku ingat! :)
Ketemu teman sejawat. Sudah lama aku chattingan
dengan teman sejawat yang sama-sama kerja di apotek. Kita sering chatting tapi
nggak pernah ketemu, tiap aku mampir ke apotek si mbak apotekernya pas libur
jadi ya kita sebatas tau wajah melalui foto profil wa. Aku dan si mbak teman
sejawat ini biasa chatting masalah perapotekan karena kita sama-sama apoteker
newbie yang diberi tanggung jawab untuk memegang apotek. Alhamdulilah melalui
buber ini bisa sharing cerita jaga di apotek secara langsung :)
Nah, oke ini
#ceritaku hari ini. Aku paling bingung kalau disuruh buat kalimat penutup. Paling
susah kalau disuruh mengakhiri, jadi kalimat penutup untuk
mengakhiri ini mungkin yang pas adalah... kalau kamu apa ceritamu hari ini? :)
Friday, June 01, 2018
No komentar
Aku ini hidup di jaman apa sebenarnya?
Sunday, May 27, 2018
No komentar
Pagi tadi ada
seorang ibu datang dengan keluhan perut perih, mengaku tidak telat makan. Menurutnya
perutnya perih setelah makan beras merah tapi setelah ditanya lebih lanjut lagi
si ibu ini ternyata memang sedang memiliki beban pikiran akhir-akhir ini. Pikiran
itu berasal anaknya yang sudah merantau semua meninggalkan si ibu dan bapak. Si
ibu merasa kesepian, menurutnya anaknya yang terakhir masih terlalu kecil untuk
merantau ke Pulo Gadung. Si Ibu terlalu was-was si anak terpengaruh lingkungan
ibu kota yang menurutnya kejam. Bagiku, karna anaknya sudah lulus sekolah maka
bukan anak kecil lagi tapi mendengar cerita si ibu aku jadi sadar bahwa sebesar
apapun kita, dimata seorang ibu kita tetaplah anak kecilnya.
Jangan terlalu dipikir bu. Pasti baik-baik aja
bu. Nanti perutnya tambah perih.
iya ya mba, Cuma kok kadang saya tu takut aja
kalo terpengaruh lingkungannya. Kan disana banyak preman-preman.
yang penting tetap komukasi kan bu?
iya mba biasa video call. Wa itu pasti. Tiap berangkat
kerja anak saya pasti pamit. ‘bu iki aku mangkat’ Tapi tetap saja saya
kepikiran.
Main kesana bu. Mungkin ibu kangen
Besok mbak kapan-kapan. Sekarang kosnya masih
dengan temannya.
cari hiburan bu biar nggak kesepian. Main Hp
iya mba, dirumah itu ya ada tv, hp, bahkan ps
juga ada. Kata anak saya, saya disuruh main ps saja dengan suami biar nggak
kesepian
:D
Dulu waktu kerjanya masih deket kan bisa
seminggu sekali pulang kerumah mb. Sekarang rasanya sepi sekali. Kalo siang
gini ngobrol dengan orang di bengkel memang nggak kepikiran tapi kalo sudah
magrib sampai malem saya rasanya kesepian. Biasa tengah malam ngelilir bangun
trus nggak bisa tidur lagi. Saya dengan anak itu udah kayak temen sendiri mb,
gojekan terus. Sekarang makanya rasa sepi.
Denger curhatan
si ibu ini bikin aku inget waktu ibu di rumah juga ada diposisi ini. Kesepian. Ditinggal
anak-anaknya merantau. Biasa dirumah rame 4 orang anaknya, mendadak tinggal
satu si bungsu. Dan ibu pun punya keluhan yang sama yaitu sering merasa perut
sakit dan mual. Ah, memang ya hati ibu yang mana yang tidak dengan sedih
ditinggal sang anak, walaupun itu untuk mengejar karirnya. Obrolan dengan si
ibu ini membuatku sadar pilihanku untuk kerja di Purworejo adalah pilihan yang
tepat karena salah satu pertimbangan untuk kerja di Purworejo adalah menemani
ibu bapak ian sebelum akhirnya menikah dan ikut suami.
Friday, May 11, 2018
No komentar
Kalopun lelah, aku tak sendiri, 154 teman angkatanku juga pasti merasakan hal yang sama. Tugas yang datang terus menerus disusul
dengan jadwal yang padat, dikejar dengan ujian-ujian yang menuntut untuk
menyisakan beberapa waktu untuk belajar. Berangkat pagi pulang malam.
Kalopun lelah,
lelahku pasti tak seberapa dibanding dengan mereka diluar sana yang menahan
kata lelah demi tanggung jawab yang tak bisa dikesampingkan. Sebut saja mereka Ayah, yang pasti merasakan lelahnya saat bekerja tapi menahannya karena mereka adalah role model superhero
bagi Ibu dan Anak-anaknya. Mana mungkin mengeluhkan?
Kalopun lelah, harus ku syukuri karena aku memiliki tubuh yang sehat yang bisa mendukung aktivitas
keseharianku. Karena diluar sana, disuatu
ruangan, banyak yang bersedia menanggung lelahnya beraktivitas dibanding
terbaring berhari-hari dengan aktivitas yang terbatas karena tubuh yang tidak
mendukungnya.
Kalopun lelah,
aku bukan satu-satunya orang.
Kalopun lelah,
lelahku tak seberapa.
"Kalopun lelah, istirahatlah
sejenak, jangan menyerah"
9 desember 2016
Friday, May 11, 2018
No komentar
Sadar
nggak sadar, sebenernya alam semesta dan alam bawah sadar itu bener-bener
bekerja sama loh!
So,
positif thinking dan mimpi adalah sebenar-benarnya hal yang harus dimiliki.
Memang
nggak semua mimpi bisa kesampaian, tapi ada lho mimpi yang sempat kamu inginkan
lalu terlupakan lalu pelan-pelan ternyata kesampaian!
Mimpi
yang pernah kamu lupakan itu pelan-pelan menyadarkan mu "Eh inikan mimpiku
dulu ya?"
Lalu
kamupun berujar,
Gila!
Semesta ternyata se Keren ini ya! :)
Sunday, April 08, 2018
No komentar
Hari ini pengen nulis cerita ttg hari ini dan pikiran-pikiran ku yg dulu, tapi karena ada tanggungan proposal yg deadline nya besok jadi nggak mungkin ngeblog sekarang. Hmm. Nulis kayak gini dulu deh! Biar jadi pengingat untuk besok kalo aku kudu nulis lebih lengkap.
S
S
Thursday, March 22, 2018
No komentar
Saya bukan orang yang pintar berbahasa jawa. Saya lagi belajar, memperlancar. Postingan berbau bahasa jawa ini saya ambil dari ucapan sehari-hari yang dilontarkan orang-orang disekitar saya. Ditambah sedikit sepengetahuan-saya tentang bahasa jawa.
Format postingan ini nantinya berupa percakapan orang-orang disekitar saya yang menggunakan bahasa jawa. Dibuat ke percakapan langsung karena bakal sering dijumpai, sehingga nantinya mudah diterapkan, siapa tau ada yang butuh dan nyasar di postingan ini. Nanti saya cantumkan arti dalam bahasa Indonesianya. Kalau sempat dengan sedikit penjelasan (kalau bisa).
Postingan dengan tema bahasa jawa ini dengan senang hati saya tulis karena saya bekerja di Purworejo, salah satu kabupaten yang berada di Jawa Tengah dan berbatasan langsung dengan Yogyakarta. Pekerjaan saya mau tidak mau harus memaksa saya untuk bisa berbahasa jawa khususnya krama alus karena sehari-hari saya bertemu dengan banyak orang dan melayani banyak orang. Saya tulis supaya lebih mudah mengingatnya dan ya,,, sebenarnya karena cukup banyak yang search kalimat bahasa jawa di google ini.
Kemampuan bahasa jawa saya sampai hari ini mungkin sekitar 60%. Baik pengucapan maupun pemahaman artinya. Ada cerita yang membuat saya berpikir “Ya ampunn, ternyata aku nih kemampuan bahasa jawanya parah juga yaa” dan itu memalukan karena ada kejadian yang... ah, terlalu malu buat diceritakan disini :( sudahlah. Cerita lain tentang saya yang tak kunjung lancar berbahasa jawa ini pernah saya posting disini.
Kalau menurut pepak basa jawa, buku paduan bahasa jawa jaman sd/smp bahasa jawa itu terbagi 3. Ada bahasa jawa ngoko (kasar), krama alus, krama inggil. Bahasa jawa ngoko digunakan antar teman sebaya. Krama alus dan krama inggil digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Bedanya krama alus dan inggil adalah krama inggil tingkatannya lebih sopan. Sementara taunya cuma itu sih, hehe. Sedang kapan digunakan krama alus kapan krama inggil sayapun belum tau pasti.
Contoh :
Ngoko Krama Alus Krama Inggil
Omah (rumah) Griya Dalem
Jupuk (ambil) Pendhet Pundhut
Bapak Bapak Rama
Bojo (istri) Bojo Garwa
Dll
Intinya, buat bicara dengan orangtua pakai bahasa yang sopan, jangan pakai bahasa ngoko ke orang yang lebih tua, kecuali memang aslinya dekat. Kalau saya, kalau memang nggak lancar krama lebih aman menggunakan bahasa Indonesia ketimbang ngoko atau ya campur-campur antara krama dan bahasa indonesia, seperti yang saya terapkan hihih.
Oke, mari mulai percakapan yang saya temui:
Tanya (T) : daleme teng pundi mbak? // rumahnya dimana mbak?
(dalem=rumah; e=nya: teng=di; pundi=mana)
Jawab (J) : teng Demangan // di Demangan
(teng= di)
T : Lha saking pundi niki? // Nah dari mana ini?
(saking=dari; pundi=mana; niki=ini)
J : Niki saking Apotek // ini dari apotek
T : Demangane pundi? // Demangannya mana?
J : Kilen lampu merah (Kilen=kulon=barat) *kilen disini merupakan krama dari kulon yang berati barat
Percakapan diatas salah satu contoh percakapan krama. Kalau ada pertanyaan kenapa tanya rumahnya pakai “dalem” ketimbang “Griya” ? saya nggak bisa kasih jawaban hehe karena gatau >,< percapakan di atas saya dapat ketika mampir beli bakso sepulang kerja :)
“Dalem” disini selain bisa berati rumah juga bisa berati “apa” yang digunakan saat ada yang memanggil nama kita. Misal nih ada tetangga yang menyapa kita ketika berjumpa atau kita dipanggil orangtua.
Tetangga : Mbak Rani...
Saya : Dalem...
Rasanya kalo di jawab “apa...?” itu kayak nantangin. Nggak sopan.
Dulu waktu pertama kali pindah ke Purworejo dari Makassar ada yang pernah nyapa “Mbak Raniiii” trus saya jawab “apa?” dengan suara yang keras. Haha. Trus ibu bilang kalo disini dipanggil orang jawabnya “dalem, bukan apa” haha.
Tapi sampe sekarang masih nggak kebiasaan buat ucap kata “dalem” ketika dipanggil orang/bapak/ibu, saya memilih menjawab “yaa...” ketimbang “dalem” hehe. Yang penting “ya..” lebih sopan kan ya secara bahasa indonesia ketimbang “apa”? hehe
Bedakan ketika kita dipanggil teman sebaya
Teman : Ran....
Saya : Opo...? piye? (Opo=bahasa ngoko dari apa, piye=gimana?)
Nah waktu KKN di Imogiri saya dapat jawaban selain dalem ketika seseorang menyapa kita.
Tetangga : Mbak Ranii..
Saya : Kulo... (Saya...)
Kulo itu artinya saya. Jadi di Imogiri tempat saya KKN ketika kita menyapa/memanggil nama seseorang, sejauh yang saya perhatikan jawaban yang sering diberikan adalah “kulo” ketimbang “dalem”.
#bersambung
Saturday, March 03, 2018
4
komentar
Jadi, beberapa hari yang lalu ibu cerita kalau anak temannya ibu lagi punya masalah terkait skripsi. Anaknya cewek, nangis terus, emosian, takut ketemu orang karena selalu ditanyain udah lulus belum? Semester berapa. Kata ibu yang kemaren sempat berkunjung ke rumah temannya matanya si anaknya sampe cekung.
Kasian banget.
Sayangnya waktu ditanya masalahnya apa, apakah pembimbingnya susah ditemui? Teman ibu menjawab kalo anaknya itu belum punya pembimbing. Belum mengajukan proposal.
“Skripsi itu gimana sih Ran? Ngajuin proposal dulu? Nah itu anaknya belum ngajuin proposal terus masalahnya dimana?” tanya ibu.
Nah itu juga bu yang jadi pertanyaanku, masalahnya skripsinya apa dong kalo belum ngajuin proposal? Belum ngajuin judul dong berati kalau belum punya dosen pembimbing?
Hmm,,, entahlah masalah skripsinya dimana bagi dia.
Bagiku yang mendengar cerita dari ibu masalah skripsi ini, ada hal urgent lain yang perlu lebih diperhatikan.
Menurutku si anak ini menunjukan tanda-tanda setres. Dari penuturan ibu, dia sering nangis, matanya cekung, emosian, sering mengurung diri. Karena menunjukan tanda-tanda setres itu maka sang ibu berusaha menghibur dengan mengajaknya piknik. Tapi sampai sekarang masih sering nangis. Ditanya masalahnya apa juga nggak bisa cerita. Malah si anak sering ke makam pacarnya yang sudah lama meninggal. Nangis disana.
Kasian nggak si denger cerita begitu? :(
Kuliah tetap bayar tapi skripsi belum tersentuh. Begitupun dengan uang kos yang tetap harus dibayar, padahal jarang ditempati. Walaupun tentu bagi seorang ibu uang tak masalah selagi kuliahnya lancar tapi kalo begini keadaannya lama-lama juga membebani sang ibu, selain kondisi sang anak itu sendiri.
“Temennya ibu ketemu sama dosen pembimbing akademik aja bu. Tanya kok anak saya belum mengajukan proposal. Kira-kira masalahnya dimana?” aku memberi usul ke ibu.
“Temen kuliahnya nggak pernah ada yang main ke rumah? Coba suruh main biar dia nya ada temen cerita.” Bapak pun memberi usul.
Sebagai orang yang juga pernah skripsian, aku paham betul sih ketika masing-masing diri kita sibuk dengan penelitian kita sampai-sampai jarang bertemu dengan teman sedekat. Akan menjadi kebahagian tersendiri ketika kita bisa wisuda bareng dengan teman dekat kita. Namun apabila yang terjadi adalah sebaliknya, kita tertinggal dari teman-teman, pasti ada perasaan seperti tertinggal dan ditinggalkan. Bagi yang ‘tertinggal’ menurutku memang harus punya mental yang lebih kuat karena tekanan itu pasti ada.
“kok belum lulus?”
“udah sampe apa skripsinya?”
“tinggal apalagi nih?”
“Kapan pendadaran?”
Aku jadi ingat perkataan salah satu dosenku ketika semester awal, beliau pernah bilang “Sekarang Anda bisa kemana-mana bareng teman sekelompok, kompak. Tapi lihat besok ketika skripsi. Anda akan jalan masing-masing. Fokusnya ke penelitian. Bukan lagi hal-hal seperti ini”
Well, memang benar adanya.
Buat yang lagi bingung dengan skripsinya atau baru yang akan memulai. Jangan takut buat skripsian, jangan mikir negatifnya, susah atau enggaknya itu tergantung usaha kita. Skripsi cuma sekali jadi nikmati saja prosesnya, suka dukanya. Percaya lah, pakaian hem putih dan bawahan hitam di saat pendadaran adalah sebenar-benarnya pakaian superduper kebanggaan.
Skripsian itu nggak ada apa-apanya dibanding dengan kehidupan di dunia kerja,,, ujian yang sesungguhnya, katanya begitu. Hadapi!
Semoga si mbak yang menjadi sumber topik cerita kali ini segera bisa bangkit buat skripsian. Yang lainpun begitu, semangaaatt!!
Hadapi, hadapi, hadapi... Mau sesulit dan setakut apa, sesungguhnya intinya cuma itu, hadapi!
Kasian banget.
Sayangnya waktu ditanya masalahnya apa, apakah pembimbingnya susah ditemui? Teman ibu menjawab kalo anaknya itu belum punya pembimbing. Belum mengajukan proposal.
“Skripsi itu gimana sih Ran? Ngajuin proposal dulu? Nah itu anaknya belum ngajuin proposal terus masalahnya dimana?” tanya ibu.
Nah itu juga bu yang jadi pertanyaanku, masalahnya skripsinya apa dong kalo belum ngajuin proposal? Belum ngajuin judul dong berati kalau belum punya dosen pembimbing?
Hmm,,, entahlah masalah skripsinya dimana bagi dia.
Bagiku yang mendengar cerita dari ibu masalah skripsi ini, ada hal urgent lain yang perlu lebih diperhatikan.
Menurutku si anak ini menunjukan tanda-tanda setres. Dari penuturan ibu, dia sering nangis, matanya cekung, emosian, sering mengurung diri. Karena menunjukan tanda-tanda setres itu maka sang ibu berusaha menghibur dengan mengajaknya piknik. Tapi sampai sekarang masih sering nangis. Ditanya masalahnya apa juga nggak bisa cerita. Malah si anak sering ke makam pacarnya yang sudah lama meninggal. Nangis disana.
Kasian nggak si denger cerita begitu? :(
Kuliah tetap bayar tapi skripsi belum tersentuh. Begitupun dengan uang kos yang tetap harus dibayar, padahal jarang ditempati. Walaupun tentu bagi seorang ibu uang tak masalah selagi kuliahnya lancar tapi kalo begini keadaannya lama-lama juga membebani sang ibu, selain kondisi sang anak itu sendiri.
“Temennya ibu ketemu sama dosen pembimbing akademik aja bu. Tanya kok anak saya belum mengajukan proposal. Kira-kira masalahnya dimana?” aku memberi usul ke ibu.
“Temen kuliahnya nggak pernah ada yang main ke rumah? Coba suruh main biar dia nya ada temen cerita.” Bapak pun memberi usul.
Sebagai orang yang juga pernah skripsian, aku paham betul sih ketika masing-masing diri kita sibuk dengan penelitian kita sampai-sampai jarang bertemu dengan teman sedekat. Akan menjadi kebahagian tersendiri ketika kita bisa wisuda bareng dengan teman dekat kita. Namun apabila yang terjadi adalah sebaliknya, kita tertinggal dari teman-teman, pasti ada perasaan seperti tertinggal dan ditinggalkan. Bagi yang ‘tertinggal’ menurutku memang harus punya mental yang lebih kuat karena tekanan itu pasti ada.
“kok belum lulus?”
“udah sampe apa skripsinya?”
“tinggal apalagi nih?”
“Kapan pendadaran?”
Aku jadi ingat perkataan salah satu dosenku ketika semester awal, beliau pernah bilang “Sekarang Anda bisa kemana-mana bareng teman sekelompok, kompak. Tapi lihat besok ketika skripsi. Anda akan jalan masing-masing. Fokusnya ke penelitian. Bukan lagi hal-hal seperti ini”
Well, memang benar adanya.
Buat yang lagi bingung dengan skripsinya atau baru yang akan memulai. Jangan takut buat skripsian, jangan mikir negatifnya, susah atau enggaknya itu tergantung usaha kita. Skripsi cuma sekali jadi nikmati saja prosesnya, suka dukanya. Percaya lah, pakaian hem putih dan bawahan hitam di saat pendadaran adalah sebenar-benarnya pakaian superduper kebanggaan.
Skripsian itu nggak ada apa-apanya dibanding dengan kehidupan di dunia kerja,,, ujian yang sesungguhnya, katanya begitu. Hadapi!
Semoga si mbak yang menjadi sumber topik cerita kali ini segera bisa bangkit buat skripsian. Yang lainpun begitu, semangaaatt!!
Hadapi, hadapi, hadapi... Mau sesulit dan setakut apa, sesungguhnya intinya cuma itu, hadapi!
Thursday, February 01, 2018
No komentar
Di awal-awal buat blog ini aku pernah
menargetkan minimal sebulan dua kali buat posting tulisan. Tapi ternyata
semakin kesini target itu terlupakan, walaupun sebenernya sering ngecekin
viewernya hehe.
Sampai hari ini postingan yang
paling banyak dilihat adalah cerita tentang camping di pantai wediombo.
Postingan itu bener-bener ngebantu blog ini buat nambahin viewer. Semoga
ceritaku tentang camping kala itu bermanfaat. Nggak bakal nyesel kok buat ngecamp
disana :)
Postingan kedua yang lumayan
banyak dibaca adalah cerita tentang kemampuan bahasa jawa ku. Mereka yang
nyasar ke postingan ku tentang keresahanku yang tak kunjung lancar bahasa jawa
ini adalah karena mencari tau arti 'dereng saget'. Kebetulan judul postingan ku
itu ada kata-kata dereng sagetnya alias berjudul 'Kulo Dereng Saget'. Jadi
ketika Google mencoba membantu mereka menyediakan jawaban, postinganku lah yang
muncul.
Padahal di postingan itu aku
nggak menulis secara eksplisit arti dereng saget lohh... wahai kalian yang
menyasar di postingan itu dapatkah kalian menarik kesimpulan bahwa dereng saget
itu artinya belum bisa?
Kulo dereng saget = Saya belum
bisa
Kulo mboten saget = Saya tidak
bisa
Kulo = Saya
Saget = bisa
Semoga tercerahkan ya!
Btw, mungkin aku perlu posting
sesuatu yang berbau bahasa jawa kali ya? Berhubung aku bener-bener butuh buat
belajar bahasa jawa, khususnya krama.
Hmmm,,, sepertinya bisa di
cobaa...
Baiklah,, dilihat besok,
sekarang sudah malam waktu nya tidur ~
Semoga ide ini bisa
terealisasi,,, Amin.
Sampun ndalu, Sugeng ndalu!
(Sudah malam, Selamat malam!)
Wednesday, January 31, 2018
No komentar
Ternyata, setiap orang/kerjaan memang punya problematika
sendiri-sendiri.
Percaya, Allah selalu memberi yang terbaik buat kita
walaupun kadang kita kecewa, bertanya-tanya mengapa begini? Mengapa begitu?
Sesebalnya kita terhadap target/harapan yang tak berjalan
sesuai keinginan kita, sempatkan barang sekali/dua kali untuk berpikir positif
bahwa ada berita lebih baik menanti di depan sana.
Semangaaat teman-temankuuu!
Tuesday, December 12, 2017
No komentar
Di sebuah lesehan, ketika berjumpa setelah sekian lama
terpisah aktivitas, seorang kawan baik ku berkata, "Ran, kamu kalo aaaaaa
pasti cantik"
Seorang adek ketemu besar memasuki kos ku dan memerhatikan
ku saat aku berdandan. Tak lama kemudian dia berkata, "Mbak Ran, kalo Mbak
Ran bbbbbb pasti cantik lho"
Lagi, seorang adek ketemu besar memasuki kos ku dan
tiba-tiba berujar "Mbak, coba mbak tu cccccc pasti cantik"
Semua ucapan mereka ku tanggapi dengan senyum meringgis, ketawa
heheh, dan pura-pura sedih "ya gimana dong? Huhu"
Mereka yang berucap aaaaaa, bbbbbb, cccccc adalah
cewek-cewek. Dan yang mereka maksud adalah soooo physically. Tapi aku tau niat
mereka baik. Karna tanpa mereka ucapkan pun sebenernya ketiga hal itu memang
sudah menjadi perhatianku untuk ku urus, bukan agar cantik tapi lebih ke
sewajarnya aja. Sayangnya usaha ku itu tak berhasil sampai sekarang. Jadi
buatku, aku cukup kebal untuk menerima request2 untuk begini begitu.
Saran mereka ini enggak membuatku sedih karena (mungkin)
bagi mereka aku ga cantik. Karna cantik bukan berati mengikuti apa semua kata
orang di luar sana.
Cantik ya cantik. Cantik bisa dilihat dari banyak sudut
pandang. Ga harus mengubah ini itu dulu buat jadi cantik.
Polesan make up memang membuat cantik, tapi tampil dengan
bare face bukan berati gak cantik dong?
Request - request mereka membuatku bertanya "begitukah
definisi cantik menurut cewek-cewek?"
But,
No body perfect, kan?
Mungkin kalo aaaaa, bbbbb, ccccc langsung terpenuhi di
diriku bisa jadi malah menjadi bumerang buat ku, menjadikan ku seseorang yang
berbangga diri yang tak seharusnya, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Yakin aja semua tercipta begini oleh Nya adanya pasti ada
maksud dan hikmahnya
Monday, November 20, 2017
No komentar
Rasanya
pembukaan CPNS tahun ini adalah keberuntungan buat aku dan tentu teman-teman
seangkatan yang notabene sudah lulus S1 dan menunggu untuk di sumpah sebagai
apoteker. Mengingat pembukaan cpns terakhir ada di tahun 2014 dan sekarang kita
yang lagi gencar-gencarnya saling membagikan info lowongan terbaru, mengikuti
jobfair, dan tentu mengapply lamaran, jadi adanya pembukaan cpns ini sangat
mumpuni.
Info
pembukaan CPNS ini pertama aku dapat dari grup WA kelas, saat itu ada pembukaan
dari Badan Narkotik Nasional dan Kementrian Hukum dan HAM. Setelah ku buka file
pdf nya, Info penerimaan CPNS saat itu ku anggap angin lalu karena tidak ada
posisi untuk Apoteker, yang ada hanya S1 Farmasi. Beberapa hari berlalu sampai
akhirnya aku main ke kos Oci. Disana Oci bilang dia habis nemenin Opi buat
kartu keterangan domisili. Kartu itu nantinya mau dipake buat daftar cpns di
kemenkumham. Akupun cuma manggut-manggut berkata ‘wah pada daftar ya. Kok aku
belum kepikiran ya’
Selang beberapa hari
kemudian, waktu pulang ke Purworejo Nina main ke rumah, minta film korea,
disitu dia bilang mau daftar cpns kemenkumham. Setauku kualifikasi buat bidan
nggak ada, trus dia pake ijazah apa dong?
“aku pake ijazah SMA Ran.
Ada Farmasi kan disana? Daftar aja Ran. Ayo....”
Nah, mulai
dari sini deh aku kepikiran buat ikutan daftar. Nina aja rela pake ijazah SMA
nya padahal dia Bidan, harusnya aku fine-fine aja dong pake ijazah S1 ku?
Baru deh sepulangnya Nina,
aku langsung buka lagi pdf yang ada di Hp. Baca-baca syaratnya yang ternyata
mudah. Hanya perlu mengupload dokumen tanpa mengirim berkas. Dokumen yang di
upload pun juga mudah, hanya Ijazah, Transkrip, KTP, Foto, Surat Pernyataan,
Surat dan Lamaran.
Mengurus
semua dokumen itu nggak ada kendala sebenernya, cuma sempet bingung dan galau.
Bingung gimana cara nyatuin transkrip nilai yang jumlahnya ada 4 lembar
sedangkan file yang harus di upload berupa satu image JPG (rar nggak bisa).
Setelah nyoba-nyoba berbagai cara akhirnya berhasil terpecahkan melalui
aplikasi photoscape!! Buat yang lagi bingung gimana nyatuinnya dan kebetulan
nemu postingan ini, kalian cuma perlu pilih menu gabung di photoscape. Nanti
bisa pilih mau digabung secara vertikal, horisontal atau silang. Baiknya silang
ya, karena lebih mudah dibaca. Jangan lupa mengatur ukuran file, untuk cpns
kemarin ukuran maksimalnya 300 kb. Hasil akhirnya memang nggak begitu jelas,
perlu diperbesar untuk bisa membacanya. Jadi sebisa mungkin mengatur ukurannya
diatur sedemikian rupa untuk mendekati 300 mb. Biar nggak parah-parah banget
buremnya.
Selain
sempat bingung masalah nyatuin foto itu, aku juga sempat galau mau ngurus surat
keterangan domisili enggak. Secara domisili, 1 tahun belakangan, memang aku
lebih sering di Jogja, tapi 2 bulan kemarin aku lebih sering di Purworejo
mengingat udah nggak ada kegiatan kuliah. Jadi rasanya aneh mau ngurus surat
domisili. Surat keterangan domisili ini fungsinya menggantikan KTP yang
nantinya berpengaruh buat menentukan lokasi tes selanjutnya. Kalau aku mengurus
surat ket. domisili Jogja lokasi tes ku akan berada di Jogja. Sedangkan kalau
aku menggunakan KTP Purworejo lokasi tes ku akan berada di Semarang. Galau....
karena Jogja lebih dekat Purworejo daripada Semarang. Bakal menguras waktu,
tenaga dan biaya kalau tes di Semarang. Sedangkan kalau mau mengurus surat ket.
Domisili syaratnya cukup ribet. Harus minta surat pengantar dari Pak RT, RW,
perlu fotocopi KK ibu kos, dan tentu perlu mengurus ke kelurahan. Mengingat
waktu pendaftaran yang sudah mepet akhirnya aku memutuskan untuk tetap
menggunakan KTP Purworejo saja saat mendaftar. Sekalian jalan-jalan ke
Semarang, pikirku.
Untuk mengupload dokumen saat pendaftaran ketelitian
sangat-sangat perlu diperhatikan. Karena beberapa pendaftar sempat salah upload
dokumen, misal harusnya upload ijazah tapi file yang di upoad adalah pas foto,
hal itu berakibat fatal karena begitu salah upload satu dokumen tidak bisa
diganti lagi dengan dokumen yang lain. Untuk masalah salah meng-upload
alhamdulilah aku yakin tidak ada kekeliruan. Hanya saja selama menunggu pengumuman
seleksi administrasi, aku sempat deg-degan takut nggak lolos. Karena ada
beberapa typo disurat lamaran yang aku buat. Tapi alhamdulilah ternyata itu
nggak ngaruh. Aku lolos di tahap administrasi. Cukup senang mengetahui bisa
mengikuti tahap Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) :)
Dan benar saja untuk tes SKD ini aku kebagian di
Semarang. Setelah dinyatakan lolos administrasi pendaftar diminta untuk
mengambil jadwal ujian SKD. Sistemnya online juga. Jadi siapa lebih dulu
mengambil nomor ujian maka dia akan mendapat jadwal ujian di awal, begitu
sebaliknya. Karena sistemnya siapa cepat dia dapat di awal, maka aku memutuskan
buat ambil nomor ujian di hari akhir pengambilan nomor. Niatku pengen dapat
jadwal akhir karena kesempatan belajar jadi lebih banyak. Tapi sayangnya
web/sistem untuk mengambil nomor ujian itu error, saking banyaknya pengakses
yang ingin membukanya. Jadi akhirnya sistem pembagian jadwal pun diubah. Jadwal
ujian ditentukan dari pusat, tidak lagi siapa cepat dia dapat di awal. Dari
waktu ujian yang diberikan (senin-sabtu) alhamdulilah aku kebagian hari Kamis
di jam 15.00 jadi ada kesempatan buat belajar lebih dan tentu jadi ke
semarangnya bisa di laju dari rumah :D
Untuk mempersiapkan SKD ini aku kembali membaca pelajaran
sejarah, pancasila, undang-undang dan lain-lainnya. Rasanya seperti kembali
duduk dibangku sekolah mempelajari semua itu :D . Baca-baca kembali tentang
sejarah rasanya jadi penasaran sama Indonesia masa lalu. Berandai-andai, kalau
simbah masih hidup mungkin bisa mengulik dari cerita simbah. Pertanyaan macam
‘kenapa ya dulu nggak nanya ke simbah tentang masalalu waktu masih sekolah?’
muncul di benak hihi. Akupun jadi tau urutan penjajahan di Indonesia. Dari
penjajahan Jepang lanjut janji kemerdekaan oleh jepang lalu indonesia merdeka
lalu penjajahan belanda lalu terjadinya berbagai perundingan dengan belanda
lalu... masih banyak lagi :D bahkan menghafal isi undang-undang. Biasa
menghafal obat kini menghafal undang-undang :D ternyata begini perjuangan
menjadi abdi negara.
Untuk ujian
SKD ini terdiri dari Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU),
Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Untuk masing-masing bab itu ada nilai minimal
yang harus dipenuhi untuk bisa lanjut ke tes selanjutnya. Untuk TWK nilai
minimal 75, TIU minimal 80, TKP 143. Nilai-nilai itu akan langsung kita ketahui
begitu menyelesaikan tes SKD karena sistem seleksinya sudah menggunakan CAT (Computer Assisted Test). Apakah nilai
kita memenuhi nilai minimal atau tidak. Tapii... kalaupun nilai minimal SKD dapat
kita lampaui belum tentu kita bisa lolos di tahap selanjutnya karena tentu
banyak pendaftar yang juga memenuhi nilai minimal SKD tersebut. Jadi kita perlu
menunggu hasil rangking secara nasional. Nilai-nilai peserta SKD yang memenuhi
nantinya akan di rangking secara nasional dan akan diambil dari rangking yang
tertinggi sesuai jumlah yang diperlukan yaitu 3 kali formasi yang dibutuhkan.
Misal nih posisi yang aku daftar kemaren butuh 13 formasi, jadi dari rangking nasional
hasil SKD akan diambil 39 orang untuk mengikuti tes tahap selanjutnya. Untuk
kasusku kemarin total nilai ku adalah 328 dengan rincian TWK (75) TIU (95) TKP
(158), nilai itu memenuhi untuk bisa ikut tahap tes selanjutnya tapi belum
pasti bisa ikut karena perlu dirangking secara nasional. Apakah termasuk dalam
daftar 39 besar atau tidak. Faktanya nilai itu masuk di rangking 900an loh hihi.
Jauh dari rangking 39. Walaupun gagal buat ikut tes tahap selanjutnya tapi
setidaknya cukup puas bisa memenuhi nilai minimal SKD. Jadi tidak langsung
mengecewakan bapak dan diri sendiri begitu nilai keluar saat mengakhiri tes SKD
mengingat perjalanan Purworejo-Semarang yang aku (& bapak) tempuh dalam
sehari, dan itu sangat melelahkan. Setidaknya ada kabar baik yang bisa aku
kasih ke bapak begitu keluar tes SKD, nilai ku memenuhi ambang batas.
Untuk posisi
yang aku lamar (Pemeriksa Merek Pertama) kemaren yang dibutuhkan ada sebanyak
15 formasi. Dua untuk kategori cumlaude dan 13 untuk formasi umum. Sedangkan peserta
yang lolos administrasi dan berhak mengikuti SKD untuk posisi tersebut ada
12560 peserta. Kebayang banyaknya kan? Dari peserta sebanyak itu yang berhasil
memenuhi nilai minimal SKD hanya 453 untuk kategori cumlaude dan 1480 untuk
kategori formasi umum. Kebayang betapa SKD sangat menggugurkan banyak peserta
kan?
Nah dari peserta sebanyak
453 dan 1480 itulah hasil SKD di rangking. Untuk kategori cumlaude peserta yang
masuk rangking 6 besar berhak mengikuti tes selanjutnya di Jakarta, yaitu
Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) sedang untuk kategori formasi umum peserta yang
masuk rangking 39 besarlah yang berhak mengikuti SKB. Aku sendiri ada di
rangking 918. Sangat jauh dari rangking 39 besar hihi. Tapi nggak papa, aku cukup
puas dengan pengalaman pertama mengikuti cpns ini. Setidaknya aku mempunyai
gambaran berapa jumlah peserta, sistem seleksinya, tipe soal dan usaha yang
harus ditingkatkan.
Sebagai gambaran
berapa sih target nilai aman untuk lolos sampai tahap SKB berikut aku kasih
daftar nilai mereka yang lolos SKB untuk posisi Pemeriksa Merek Pertama.
![]() |
| Daftar nilai kategori cumlaude yang berhak ikut SKB |
![]() |
| Daftar nilai kategori formasi umum yang berhak ikut SKB |
Yang
masuk di rangking nilai 39 besar adalah mereka yang memiliki kirasan nilai
375-410 dari nilai total 500. Its really-really surprised me! Tinggi-tinggi sekali.
Tapi, nilai itu nggak selalu jadi patokan lho ya karena kirasan nilai bisa jadi
lebih rendah atau tinggi tergantung peserta dan jumlah formasi yang dibutuhkan.
Untuk sistem penilaian sendiri TWK ada 35 soal, jawaban benar akan diberi nilai
5 dan jawaban salah mendapatkan nilai 0. Begitu juga untuk TIU, namun jumlah
soal TIU lebih sedikit yaitu 30. Berbeda dengan TKP, disetiap pilihan jawaban
ada nilainya yaitu 1-5. Untuk soal TKP ada 35. Jadi total skor penuh yang bisa
di dapati untuk SKD adalah 500. Untuk soal TWK kemaren cukup sulit (ini mah aku
yang kurang belajar), ada beberapa soal TIU yang panjangnya minta ampun, dan soal
TKP yang perlu dibaca berulang-ulang untuk memastikan memilih jawaban dengan
skor tertinggi. Intinya sih banyakin latihan soal dan banyak doa. Dan yang
pasti jangan sampe berbuat curang, karna pasti ketauan oleh panitia:)
okelah, sekian cerita menjajal
cpns pertama kali ini.
Panjang juga ya ternyata? (Padahal
masih ada bagian yang pengen diceritain) Haha
Selamat berjuang pejuang
cpns 2017 periode 1 maupun periode 2, yang kemungkinan bakal ada periode
selanjutnya sampe tahun 2018 mendatang (berharapnya gitu). Semoga ceritaku ini
bisa memberi gambaran ya.
Semangatttt.
Friday, September 22, 2017
1 komentar
Seumur-umur tinggal di purworejo (padahal 2 tahun juga belum, :p) kayaknya aku belum pernah masuk ke puskesmas purworejo. Bukan pengen nyobain masuk karena pengen sakit, bukan. Tapi karena latar belakang profesiku (kelak), keinginan buat tau suasana fasilitas kesehatan jadi semakin tinggi. Semenjak pindah purworejo jadi pengen 'berkunjung' ke RSUD Purworejo, puskesmasnya, dan apotek-apotek disana. Walaupun sudah bisa ditebak, suasananya nggak beda jauh sama pelayanan kesehatan yang lain. Ada yang rame, ada yang sepi. Tapi seenggaknya bisa buat bahan perbandingan antara faskes yang pernah ku kunjungi dengan yang di Purworejo ini. Juga sebenernya buat jaga-jaga aja siapa tau pas 'berkunjung' ada lowongan :D
Kesempatan 'berkunjung' ke RSUD Purworejo sudah kesampaian beberapa bulan yang lalu, sewaktu nengok Pakde opname. Waktu itu kesananya pagi menjelang siang, jam 10an. Kebetulan jalan untuk ke ruang rawat inap saat itu melewati poli rawat jalan, jadi kelihatan keadaan disana. Suasana di poli rawat jalan ternyata rameee bangeet. Penuh. Tapi yaaa memang seperti itulah namanya RSUD. Nggak beda jauh sama di RSUD Tugurejo, tempat PKPA.
Disana juga aku sempat lihat depo farmasi rawat inapnya (dariluar), merhatiin segala yang ada disana. Bahkan aku foto-fotoin :D. Bagus dan besar ternyata rumah sakitnya. Kata ibu RS nya ini sudah lebih besar dibanding yang dulu, banyak gedung baru. Termasuk bangsal tempat pakde opname. Terlihat juga masih ada lahan kosong di dalamnya yang masih terus di bangun. Dan memang menurut berita RSUD Purworejo ini masih terus dalam perluasan pembangunan seiring jumlah pasien yang kian banyak. Nah disinilah pointnya kedua 'berkunjung' yang aku maksud, aku jadi bisa ngira-ngira kalau dalam jangka waktu dekat bisa jadi bakal ada lowongan buat penambahan apoteker, kaaan? Ya walaupun belum tau kapan, seenggaknya aku udah bisa antisipasi. Kenyataannya nggak lama setelah itu beneran ada lowongan loh! Di butuhkan 3 apoteker. Sayangnya aku belum lulus profesi saat itu, jadi ya cuma bisa berharap dalam 1-2 tahun ini lowongan di buka lagi.
Untuk apotek, aku udah 2-3 kali ke apotek yang berbeda. Kurang lebih sama seperti apotek lain yang di jogja. Tapi menurut pengakuan bude/bulek, harga obat di Purworejo mahal. Dan memang waktu denger harganya menurutku memang lebih mahal dari yang aku tau.
Sedang untuk puskesmas, akhirnya tadi bisa 'berkunjung' dengan alasan mau buat surat keterangan sehat! :D Sebulan terakhir ini emang pengen tau puskesmas di Purworejo kayak apa. Khususnya yang deket rumah. Karena kata temen lagi mau diperbesar, mau ada rawat inapnya. Jadi ya tambah pengen tau aja, a.k.a kepo.
Puskesmasnya memang besar. Disana tampak ruang kosong yang lagi di renovasi. Karena aku kesana jam 10 puskesmas kelihatan lebih sepi. Tapi tetep ada antrian. Baru-baru ini ada satu trik yang aku dapati setelah mengamati antrian di pendaftaran yang selalu rame. Menurutku nih ya, kalo mau periksa di tempat fasilitas kesehatan lebih baik agak siang. Jam 10 ke atas. Tapi jangan lebih dari jam 11 (udah tutup pendaftarannya). Biar ngantrinya nggak terlalu lama. Karena mau dateng pagi jam 8 apa siang, menurut pengalamanku tetep aja dapet panggilan pendaftaran di atas jam 10. Jadi mending sekalian dateng siang aja, kan waktu tunggu jadi ga selama kalo dateng pagi jam 8.
Kok bisa dateng jam 8 tetep dapet panggilan pendaftaran jam 10an?
Fyi, jangankan jam 8, jam 7 pun bahkan jam 6 pagi, udah banyak pasien antri dibagian pendaftaran padahal pendaftaran biasa mulai dibuka antara jam 7/8. Pasien-pasien ini biasanya pasien orangtua. Kita yang muda, pasti kalah deh kalo masalah antri dari jam 6. Jadi daripada dateng jam 8/9 yang mana antrian pasti belum banyak berkurang, mending sekalian dateng jam 10an. Paling lama kita cuma perlu nunggu 15 menit atau seenggaknya nggak selama kalo antri dari jam 8.
Kembali tentang puskesmas purworejo ini, biaya buat pembuatan surat keterangan sehat ini 20.500 yang terdiri dari biaya pendaftaran 10.500 dan biaya dokter 10.000. Biaya nya cukup bikin kaget sih ya, karena di puskesmas Jogja cuma bayar 7.000 aja. Pikirku juga bakal berkisar 7.000-10.000 eh tapi ternyata 3 x dari puskesmas Jogja. Selidik punya selidik ternyata Puskesmas kota Jogja memang tergolong murah banget. Karna kalo puskesmas di Sleman biayanya 17.500. Nggak beda jauh sama yang di Purworejo. Tapi kok tetep Purworejo lebih mahal? Entahlah, sepertinya memang biaya faskes Jawa tengah lebih mahal dari DIY.
Selain tentang biaya yang bikin agak kaget, ada cerita menarik nan nyesek yang pengen aku ceritain. Tentang pembuatan STRA ini. Jadi waktu tadi waktu dipanggil nama buat diukur tensi, perawatnya nanya mau buat STR apa? "Bidan apa perawat mb?" Hikss (Apoteker nggak ada 😫) padahal dari awal aku udah bilang mau buat STRA (Surat Tanda Registrasi Apoteker).
Gitu juga waktu mau lagi di ruang dokter, pak dokterpun tanya 'mau buat str buat bidan apa perawat mbak?)' Hikssss bahkan dokterpun bertanya itu juga.
Nasib apoteker.
Gapapa. Nyesek + lucu sih. Positif thinking aja mungkin memang kebanyakan pasien yang minta buat STR adalah bidan dan perawat. Apotekernya langkaaa 😂
Gapapa.
Gapapa.
Semoga apoteker lambat laun semakin terkenal. ❤
Friday, September 01, 2017
No komentar
Hwaaaaaa!!!!
Setelah ditunggu sekian lama dari postingan ini, ini, ini dan ini akhirnya kesempatan itu sampai juga!! Sampaaaai jugaaaaa!! Oke maaf tanda pentung nya jebol saking senengnya.
Gaes,
Akhirnya ada kesempatan nonton girls' generation GRATIS. G-R-A-T-I-S. Bukan gratis karna dapet tiket gratis tapi karena memang acaranya gratis untuk umum!!! Gratis untuk umum!!
Demi apa nggak pernah kebayang kalo SNSD bisa ditonton secara gratis. Never ever. Makanya kemaren waktu tau ada event Countdown Asian games 2018 di Jakarta yang ngundang SNSD nggak diragukan lagi aku ikut histeris. Haha.
Beneran nih?
Gratis nggak nih?
Langsung deh aku cari info sana-sini terutama di fans page SONE Indonesia. Sesama penggemar SNSD, histerisnya mereka menambah keinginanku buat nonton. Percaya atau enggak begitu tau ada event itu aku langsung nge wa adek yang tinggal di Bogor. Katanya jarak rumah dia ke monas 2 jam. Kalo mau deket lagi hubungi sepupu yang di Jakarta aja. Alternatif lain, ada temen di Jakarta yang bisa aku singgahi kalo aku ke Jakarta. Pokoknya malam itu aku cari info-info, semisal mau kesana nginepnya dimana dan berangkatnya naik apa. Aku juga langsung cek tiket kereta ditanggal 16/17. Totalitas lah pokoknya kemaren. Hehe.
Oya, selain acara gratis, alasan lain kenapa aku heboh pengen nonton adalah karena sudah nggak ada acara dikampus. Free. Niatnya sekalian buat refresing setelah menempuh UKAI tanggal 12 Agustus. Niatnya gitu tapi ternyata keesokan harinya dapet kabar kalo nggak semua personil dateng ke Indonesia :( mendadak nggak semangat dan nggak tertarik nonton secara aku pengen nontonnya mereka sebagai grup.
Akhirnya, sejak berita nggak semua member dateng lambat laun keinginan buat nonton sirna bahkan aku lupa kalau mereka bakal ke Jakarta haha sampai akhirnya TADI SIANG lihat iklan event Countdown Asian games 2018 di Jakarta yang aku harepin dulu.
Nama Hyoyeon dan Taeyeon SNSD di sebut di Iklan itu. Omg! Ternyata acara Countdown Asian Games 2018 disiarin di TV. Mendadak aku kembali histeris!! Tapi waktu tau tanggal dan jam tayangnya aku kembali 'hmm yah kok gitu sihhhh?'
Acara disiarin live Jumat, 18 Agustus 2017 jam 19.00. Sedangkan aku rencananya balik ke Jogja di hari Jumat itu karena Sabtu ada acara :( sedih galau ... hikss
Nama Hyoyeon dan Taeyeon SNSD di sebut di Iklan itu. Omg! Ternyata acara Countdown Asian Games 2018 disiarin di TV. Mendadak aku kembali histeris!! Tapi waktu tau tanggal dan jam tayangnya aku kembali 'hmm yah kok gitu sihhhh?'
Acara disiarin live Jumat, 18 Agustus 2017 jam 19.00. Sedangkan aku rencananya balik ke Jogja di hari Jumat itu karena Sabtu ada acara :( sedih galau ... hikss
Haruskah aku balik ke jogjanya hari Sabtu paginya aja? Tapi bakal keburu banget.
Bisa sih nonton di youtube besok2nya tapikan aku pengen dapet euforianya ditanggal segitu hikss
Kayaknya emang belum rejekiku banget buat nonton SNSD ini :( Bisa jadi ada waktu yang lebih tepat buatku buat nonton SNSD secara langsung di lain waktu.
Okelah, Keep calm and hwaitingggg!~
Bisa sih nonton di youtube besok2nya tapikan aku pengen dapet euforianya ditanggal segitu hikss
Kayaknya emang belum rejekiku banget buat nonton SNSD ini :( Bisa jadi ada waktu yang lebih tepat buatku buat nonton SNSD secara langsung di lain waktu.
Okelah, Keep calm and hwaitingggg!~
Tuesday, August 15, 2017
No komentar
Hallo Rani, ini kedua kalinya Rani yang
dulu nulis surat untuk kamu, Rani yang sekarang. Ternyata baca surat yang
ditulis dan dituju ke diri sendiri itu lucu juga. Setelah sebelumnya kamu ragu menulis
surat untuk diri sendiri itu seperti apa tapi toh pada akhirnya kamu
berhasil menulis untuk pertama kalinya. Dan
ketika kamu membacanya beberapa bulan kemudian ternyata bikin senyum-senyum
sendiri, melihat tingkah laku diri sendiri di masa lalu. Kamu pun berpikir
dibaca hanya jarak bulan saja jadi geli-geli gini, gimana besok bacanya saat
tahun-tahun berlalu ? :)
Sama seperti sebelumnya, disurat ini kamu
bakal baca kegiatan seharian Rani yang dulu, di tanggal 17 Juni 2017.
Rencana kegiatan kamu disabtu hari ini
adalah cuci baju sekeluarga. Jadi sehabis bangun tidur kamu langsung ngerendam
pakaian. Niatnya nanti mau dicuci setengah jam-an lagi, tapi ternyata waktu
lagi ditinggal nyapu rumah, bapak masuk kamar mandi dan dicucilah itu pakaian
sama bapak ._.
Tugaspun berubah, dari nyuci pakaian
menjadi nyapu halaman rumah. Karna cuci pakaian diambil alih bapak, ibu meminta
kamu menyapu halaman barat rumah, yang nggak kalah menguras energi. Tapi
berhubung hari ini kamu nggak puasa jadi kalau kelelahan bisa istirahat minum.
Mumpung masih pagi, jam 9 kurang 15 menit
kamu pun bergegas untuk mulai menyapu. Walaupun daun kering tak sebanyak
biasanya tapi kegiatan menyapu halaman rumah tetap menjadi kegiatan yang paling
melelahkan. Untungnya halaman rumah teduh jadi panasnya matahari tidak terlalu
mengganggu.
Setengah jam berlalu, munculah si adek,
Ian. Dia memanggil sambil memberikan jempol, cengengesan dan kamupun berkata
“huu bantu sini dek, kamu kan tadi juga disuruh ibu nyapu. Malah main...”
Sambil ketawa-ketawa akhirnya dia
mengambil sapu lidi juga dan ikut membantu, sebentar. Karena memang sebagian
besar halaman sudah kamu sapu. Seusai menyapu kamu dan Ian berusaha untuk
membakar sampah kering bermodal korek gas.
“ambil lilin sana dek, panas kalo pake
korek gas terus,” kata mu saat itu.
“gak usah, sini aku aja. Kamu tu yang
nggak bisa. Pake daun pisang kering ini lhooo” jawab si Ian. Lama Ian mencoba
tapi gagal terus, akhirnya kamu memutuskan mengambil lilin di dapur dan daun
pisang yang kering yang lain. Kamupun ikut mencoba menyalakan setelah eyel-eyalan cara
yang benar untuk memulai menyalakan api pada tumpukan sampah. Sampai akhirnya,
“yeey aku kan yang bisa nyalain” ujar mu saat itu Ran sambil tertawa.
“ini punyaku juga nyala,” kata Ian nggak
mau kalah. Haha. Duh saat-saat seperti itu adalah saat yang paling berharga
bisa ketawa-ketawa sama Ian. Ejek-ejakan. Eyel-eyelan.
Saat kamu membaca ini masihkan kamu sering
eyel-eyelan dengan si Ian, Ran? Atau dia sudah sibuk sendiri dengan teman-teman
yang mulai beranjak Dewasa?
Satu tumpukan sampah teratasi, masih ada
dua tumpukan sampah yang harus dibakar juga. Kamu dan Ian mencoba dengan cara
yang sama untuk menyalakan api, tapi gagal terus sampai akhirnya Ian nyerah dan
masuk rumah. Mungkin dia lelah, karena Ian puasa. Sementara kamu masih
bersikukuh untuk membakar dua tumpukan sampah sendirian. Berulang-ulang dicoba
tapi nggak nyala-nyala juga. Akhirnya kamupun ikut nyerah dan masuk rumah.
Lelaaah.
Di dalam rumah, ibu lagi membuat kue
semprit untuk lebaran di depan TV. Seperti biasa selain menonton TV menunggu
untuk mandi, kamu juga melihat ibu mengadoni bahan-bahan kue. Ian juga di depan
TV, galau memikirkan ‘nanti aku naik nggak ya?’ haha :D
Oiya hari itu adalah hari penerimaan
raport. Kamu diminta bapak buat mengambilkan raport Ian. Jam 2 siang. Dan ini
untuk pertama kalinya kamu mengambilkan raport si adek hehe.
Waktu jam mulai menunjukan pukul 12, kamu
bergegas mandi. Seusai mandi, bapak minta di keroki. Ternyata bapak masuk
angin. Selesai mengerokin, kamu siap-siap untuk ke SMP nya Ian. Nyetrika baju,
dandan, dan cuuus pergi.
Kamu sampai di SMP tepat waktu, karena
begitu kamu parkir di depan kelas pas banget waktu bu wali kelas masuk ke
ruangan. Bergegaslah kamu ikut masuk ruangan, ternyata di kelas sudah penuh
bapak-ibu orangtua siswa. Dan kamupun yang paling muda,,, kkk~ ‘jadi begini toh
rasanya mengambilkan raport si adek’ ujarmu dalam hati.
‘Kok ini turunnya jauh sekali ya. Naik
tapi turun’ Kata Bu guru waktu kamu maju ke depan untuk mengambil raport ian.
Seusai menerima raport, kamu bergegas
pulang. Sampai dirumah Ian masih tidur dan kamu sibuk dengan grup chat yang
membahas laporan PKPA. Ohiya ran, liburan kali ini mungkin bisa dibilang
liburan yang paling nggak tenang. Karena ditengah-tengah liburan ini kamu dan
teman-teman masih harus mengurus laporan PKPA, diskusi PKPA, belajar untuk
ujian kelulusan belajar untuk tes toefl. Semua dealine itu adalah minggu
pertama bulan Juli, sedangkan sudah dari minggu kemaren kamu dan teman-teman
sudah mudik ke kampung halaman masing-masing dan kembali ke Jogja di awal Juli.
Jadi mau nggak mau, belajar dicicil dari libur puasa ini dan laporan di bahas
di grup whatsapp.
Rani, untuk semua deadline kegiatan itu
kamu selalu mengatakan untuk dinikmati karena liburan ini adalah liburan
terakhir diperkuliahan. Tahun depan sudah nggak kuliah dan nggak bakal ada
dealine kuliah semacam ini. Deadline-deadline semacam ini bakal kamu rindukan
tahun depan Ran. Huhu.
Saat kamu membaca ini, sudah kah kamu
lulus Ran? Gimana, rindukah kamu pada tugas-tugas semasa kuliah? Adakah
pekerjaanmu sekarang menuntutmu mencari jurnal sama seperti saat kuliah? Aku
harap saat kamu membaca ini, kamu mendapati pekerjaan yang kamu idam-idamkan!
:)
Malam makin larut Rani, dan suratpun makin
panjang saja. Untuk selanjutnya aku singkat aja Ran,,, jadi singkat cerita di
sore hari itu kamu tidur sebentar lalu dibangunkan ibu untuk menyiapkan minuman
untuk berbuka. Setelah berbuka seperti biasa bapak ibu Ian mengambil posisi
masing-masing di depan TV. Tiduran. Ohiya Hari ini adalah hari ulang tahun
bapak. Nggak ada perayaan spesial, hanya kita bertiga (Ibu, Ian dan Kamu)
mengucapkan selamat dan memberi doa yang terbaik. Tak lupa, cium kening bapak.
Sisanya, kamu melewati malam ini dengan
menulis surat ini, menyelesaikan tantangan menulis.
Nah, Rani yang dulu sedang menulis surat
ini di dalam kamar untuk Rani yang sekarang. Kalau Rani yang sekarang sedang
apa kah? Bagaimana kabar Rani sekarang? Masihkan Rani yang sekarang memikirkan
seseorang disana yang beberapa bulan ada dipikiran Rani yang dulu?
Saturday, June 17, 2017
1 komentar



